Inilah Kemistisan Malam Satu Suro yang Tak Terungkap

16. March 2016 Dunia Mistik 0
Inilah Kemistisan Malam Satu Suro yang Tak Terungkap

Malam satu suro

Banyak yg merayakan 1 Suro serta melihat sebagai hari sakral. Dengan cara rutinitas turun temurun, biasanya orang berharap “ ngalap berkah” beroleh barokah pada hari besar yg suci ini. Waktu malam 1 Suro, kebanyakan orang laksanakan laris prihatin utk tdk tidur semalam bosan atau sepanjang 24 jam.

Kehadiran th. baru kebanyakan ditandai dengan bermacam kemeriahan, seperti pesta kembang api, keramaian tiupan terompet, atau bermacam arak-arakan saat malam perubahan th..

Lain perihalnya dengan perubahan th. baru Jawa yg jatuh tiap-tiap malam 1 Suro (1 Muharram) yg tdk disambut dengan kemeriahan, akan tetapi dengan bermacam ritual sebagai bentuk introspeksi diri.

Kala malam 1 Suro tiba, warga Jawa kebanyakan laksanakan ritual tirakatan, lek-lekan (tdk tidur semalam bosan), serta tuguran (perenungan diri sembari berdoa).

Bahkan juga sebagian orang menentukan menyepi utk bersemedi ditempat sakaral seperti puncak gunung, pinggir laut, pohon besar, atau di makam keramat.

Ritual 1 Suro udah di kenal warga Jawa sejak mulai periode pemerintahan Sultan Agung (1613-1645 Masehi).

 

Tidak serupa dengan perayaan Th. Baru Kalender Masehi yg tiap tiap tanggal 1 Januari dirayakan dengan nuansa pesta, orang Jawa tradisional lebih menghayati nuansa spiritualnya. Pemahamannya merupakan : Tanggal satu pada th. baru Jawa diperingati sebagai kala dimulainya terdapatnya kehidupan baru. Umat manusia dari lubuk hati terdalam manembah, menghormati terhadap Yg Satu itu, Yg Tunggal, Yg Esa, yg sebelumnya membuat semua alam raya ini dengan seluruh berisi, termasuk juga manusia, yakni Gusti, Tuhan yg Maha Esa. Oleh sebab itu peringatan 1 Suro tetap jalan dengan khusuk, orang bersihkan diri lahir batin, laksanakan introspeksi, mengucap sukur terhadap Gusti, Yg Buat Hidup serta Menghidupi, yg udah berikan peluang terhadap kita seluruh utk lahir, hidup serta berkiprah di dunia ini.

raja-pengasihan

Saat malam 1 Suro ini mereka yg miliki senjata pusaka atau gaman dapat mencucinya. Orang Jawa umum menyebutnya dengan Penjamasan.

 

Utk menjamas senjata pusaka seperti keris, tombak serta yang lain juga tdk asal-asalan. Ada ritual privat yang wajib dilaksanakan seperti puasa, pati geni, sesaji, bakar menyan, tumpengan serta semua tetek bengeknya.

 

Mereka yakin dengan menjamas saat malam 1 Suro akan buat pusaka mereka jadi lebih sakti. Gak pelak, buat warga Jawa yg mengakui ritual ini, malam 1 Suro jadi sangatlah teramat terutama. Dimensi gaib serta mistis saat malam ini sangatlah kuat.

 

Sadari atas peluang teramat mulia yg di dapatkan dari Sang Pencipta, jadi udah sepatutnya manusia bertindak sebagai titah mobilisasi kehidupan di dunia yg waktunya terbatas ini, dengan berbuat yg paling baik, bukan hanya utk dirinya serta keluarga terdekatnya, akan tetapi utk sesama mahluk Petitah Semesta dengan salah satunya melestarikan jagad ini, Memayu Hayuning Bawono. Tdk salah jagad mesti dilestarikan, dikarenakan apabila jagad rusak, di dunia ini ga ada kehidupan. Pemahaman ini udah sejak mulai masa kabuyutan di Jawa, dimasa lampau, udah dengan sadar diakui semuanya oleh banyak pinisepuh kita. Perayaan 1 Suro dapat dilaksanakan dibanyak tempat serta dengan bermacam langkah. Itu terkait dari kemantapan batin yg menekuni serta bisa pula sama sesuai rutinitas warga setempat.

Artikel Misteri Lainnya:

Inilah Fakta Tersembunyi Mengenai Khodam

Pada prinsipnya, orangcJawa bahagia terhadap kebatinan, bahagia laksanakan tirakat seperti “ngurang-ngurangi”- membatasi dapat perihal yg punya sifat kepentingan atau kesenangan duniawi, biar beroleh ketenangan hidup serta pencerahan spiritual.

 

 

Dalam warga Tradisional Jawa sekurangnya ada 3 tingkatan dalam pengetahuan Kejawen :

1) Tingkat pertama : dimaksud dengan Kanuragan, di ambil dari kata “Raga” atau “Jasmani ”. Pada prinsipnya tingkatan ini utk banyak anak muda, badan mereka jadi bisa kebal pada serangan benda tajam, seperti pisau, belati, bahkan juga hingga anti peluru. Menurut dari hasil memproduksi raga ini, mereka lebih mempercayainya sebagai tingkat kapabilitas supranatural atau mistis.

 

2) Tingkat ke dua : dimaksud dengan Kasepuhan, di ambil dari kata “Sepuh” atau “Tua”, pengetahuan ini kebanyakan bisa juga mampu utk memnyembuhkan penyakit, namun demikian pada prinsipnya diperuntukan sebagai penghormatan hari lahir seorang atau di kenal dengan “Slametan Wetonan”, ; Slametan di ambil dari kata “Slamet” ; dengan diadakannya acara ritual ini dikehendaki datangnya keselamatan buat seorang, baik selamat dari mara bahaya atau sakit penyakit.

 

 

3) Tingkat ketiga : dimaksud dengan Ngelmu Sejati ; Kasunyatan, pengetahuan ini buat seorang yg baik serta bijaksana serta sukses menggapai tingkatan ini dapat menyaksikan dengan cara fakta peristiwa yg berjalan dalam kehidupannya atau kebenaran sejati. Dengan pengucapan lain udah ga ada lagi rahasia dalam kehidupannya ; seluruhnya jadi realita.

 

Kebanyakan seorang yg udah mampu hingga pada tingkat Kasunyatan kuranglah sangat memuaskan dirinya sendiri, yakni satu buah pengetahuan perihal yg kerapkali di sebutkan oleh orang Jawa Jumbuhing Kawulo Lan Gusti. Walau juga seorang udah sungguh-sungguh faham perihal ngelmu Kasepuhan, kadang kala mereka juga kerapkali risau serta kerapkali juga tdk menemukannya kedamaian sejati, mereka pergi serta mencari guru spiritual atau Guru utk beroleh wawasan yg sekitar lebih sekadar memecahkan permasalahan hidup.

 

Utk kuasai pengetahuan Kasunyatan butuh saat yg sangatlah panjang sekali, dikarenakan hal tersebut berhubungan dengan latihan kesetiaan atau utk jadi setia, serta latihan memanfaatkan getaran kapabilitas batin yg bersih. Cuma seorang yg sungguh-sungguh udah masak umur, jujur, bijaksanalah yg mampu menggapai tingkatan ini, sebab itu juga itupun mesti melalu sistem “perijinan” dari yg Maha Tinggi. Akhir kata demikian dahulu review yg dapat tersampaikan lewat aksara mudah-mudahan ada gunanya utk kita sekalian.

 

 

Buat mereka yg tdk miliki pusaka juga masih laksanakan ritual privat saat malam 1 Suro. Di Keraton Surakarta, warga seputar kerapkali laksanakan ritual Mubeng Benteng (Memutari Benteng Surakarta), ada juga yg laksanakan ritual kungkum atau berendam di kali serta terdapat banyak lagi.

 

Keraton Surakarta serta Yogyakarta sampai waktu ini masih tetap melanggengkan ritual penjamasan keris pusaka tiap-tiap malam 1 Suro. Bahkan juga selesai dimandikan, air yg dimanfaatkan utk penjamasan jadi rebutan warga. Mereka yakin air yg dimanfaatkan utk memandikan keris pusaka itu mempunyai kandungan tuah serta barokah.

 

Beberapa orang Jawa juga menyakini kalau Bln. Suro sebagai bln. penuh kesialan, tersebut yg sebabkan pada bln. itu ‘dilarang’ laksanakan pesta teristimewa pernikahan. Buat mereka yg yakin itungan-itungan Primbon, semestinya tak lagi menyelenggarakan pesta pernikahan di Bln. Suro.

 

Dalam persepsi Islam, bln. sial seperti Suro semestinya ga ada. Seluruh hari merupakan baik serta ga ada saat atau tanggal yg dapat membawa kesialan pada manusia. Timbulnya keyakinan perihal bln. Suro sebagai bln. sial, hal tersebut tdk terlepas dari latar belakang peristiwa era kerajaan tempo dahulu. Pada era dulu di Bln. Suro sebagian keraton di Pulau Jawa mengadakan ritual memandikan pusaka keraton.