Inilah Rahasia Perhitungan Primbon Hari

18. March 2016 Dunia Mistik 0
Inilah Rahasia Perhitungan Primbon Hari

primbon hari

Dengan pelajari Rahasia Hari kita bakal tahu rahasia-rahasia di balik penggunaan hari dalam satu ritual amalan pengetahuan hikmah. Terutama Aji mantra Jawa, bahkan juga dengan basic kajian ini dapat hingga dipakai untuk mengetahui watak seorang berdasar pada hari kelahirannya.

Dahulu, kali pertama waktu saya memulai lelaku mengenai hari ini sangatlah menggangu benak, kenapa amalan pengetahuan A diawali hari Senin, Amalan pengetahuan B dimulai hari Selasa serta lain sebagainya. Saya rasa hal semacam ini juga terlintas juga pada benak kerabat .

 

Pemilihan hari dalam satu ritual atau amalan pengetahuan mempunyai basic argumen. Beberapa leluhur serta pinisepuh pengetahuan kebatinan tidaklah asal-asalan dalam berikan tuntunan pengetahuan. Meskipun kadang-kadang susah di terima nalar, namun sekurang-kurangnya senantiasa mempunyai basic argumen.

 

Walau tidak semuanya guru memahami, tidak semuanya murid tahu, tidak semuanya pengamal pengetahuan tahu. Cuma mereka yang selalu ikuti panduan Maha Guru, memurnikan tuntunan ilmunya tanpa ada digabungi angan serta hasrat (merubah-ubah) yang bakal tahu Rahasia di balik tuntunan pengetahuan. Salah satunya yaitu Rahasia Hari yang bakal bahas dengan cara simpel yang sudah pasti dalam perspektif saya dengan cara pribadi dengan sedikit mengambil basic dari pelajaran IPA waktu MI/SD seperti dalam cerita pembuka di atas.

 

Gerakan Alam. Dalam pandangan pakar pengetahuan hikmah tiap-tiap fenomena alam mempunyai rahasia serta bakal mencerminkan watak (ciri-ciri) sendiri. Termasuk juga fenomena pergantian hari dalam system penanggalan. Kenapa dapat sekian? Karena gerakan bumi tak pernah berhenti, jadi tiap-tiap detik posisinya beralih. Untuk kembali ke posisi yang sama, memerlukan siklus saat spesifik. Sirklus jam, sirklus hari, bln., th., market (Legi, Pon dll), Wuku serta lain sebagainya. Pada dasarnya tiap-tiap siklus terkait dengan posisi orbit bumi.

 

Dengan latar belakang itu, jadi kelahiran manusia serta peristiwa di alam semesta ini (umpamanya musim) dengan sendirinya bakal tempati satu diantara siklus di antara siklus-siklus yang ada. Umpamanya manusia yang dilahirkan pada hari Senin, bakal masuk kedalam siklus Senin yang sudah ditempati banyaknya orang terlebih dulu, yang lahir pada hari yang sama. Oleh karenanya pada umumnya mereka jadi satu wadah yang bernama siklus. Jadi berdasar pada ‘Ilmu Titen’ atau pengetahuan hasil dari mengetahui/mencermati serta selalu berjalan turun-temurun, watak seorang atau gerakan alam pada dasarnya bisa dikenali bahkan juga diperkirakan.

buka-aura-tempat

Sirklus Jam. Hari dalam bhs Jawa dimaksud “dina” (dino). Seperti sudah kita kenali kalau sehari yaitu satu unit saat yang dibutuhkan bumi untuk berotasi (berputar) pada porosnya sendiri. Unit saat ini dapat berbentuk detik, menit maupun jam. Zaman saat ini 1 hari = 24 jam, atau bila dihitung dalam menit, 1 hari = 1440 menit. Bila dihitung dalam detik, 1 hari = 86400 detik.

Jadi Bumi memerlukan saat 24 jam untuk sekali berputar pada porosnya. Akibat perputaran ini terjadi fenomena siang serta malam. Di mana sisi segi bumi yang menghadap Matahari alami saat Siang (jelas), sedang sisi segi bumi yang membelakangi Matahari alami saat Malam (gelap).

 

Jutaan th. waktu lalu 1 hari tak berjalan lama seperti saat ini (24 jam) mungkin saja cuma 18 jam saja. Pemicunya lantaran Perputaran bumi saat itu berjalan lebih cepat. Sebab jarak Bln. (Moon) dengan Bumi lebih dekat dari pada jarak saat ini. Demikian halnya demikian sebaliknya, dimasa mendatang (jutaan th. lagi) 1 hari dapat berjalan makin lama, sampai 30 jam. Sebab jarak Bumi serta Bln. makin menjauh, mengakibatkan bumi berrotasi lebih lambat. Tiap-tiap fenomena alam yang berlangsung bakal membawa efek dampak untuk penghuni alam terutama manusia.

baca juga:

Amalan Ini untuk Mengisi energi Benda Bertuah, Anda Perlu Tahu

 

Sirklus Tujuh Hari = Seminggu

Mencari tahu asal muasal “1 minggu = 7 hari” tidaklah gampang. Cukup susah mencari kebenaran teori di balik pemilihan “1 minggu = 7 hari”. Banyak teori yang tidak sama bahkan juga sama-sama berseberangan. Ada yang berdasarkan ajaran agama (kitab suci). Mitos Dewa-dewa penguasa 7 planet, praktik perhitungan geometri primitif serta lain sebagainya.

 

Namun yang menarik serta butuh kita kenali kalau tak semuanya bangsa yakini 1minggu terbagi dalam 7 hari. Umpamanya, orang Mesir kuno menggunakan hitungan 1 minggu = 10 hari. Kalender Maya menggunakan 13 serta 20 hari dalam satu minggu. Orang Lithuania menggunakan 9 hari dalam satu minggu, serta lain sebagainya. Lantas bagaimana dengan siklus hari dalam budaya Jawa?

 

 

Siklus Hari dalam penanggalan Jawa. Sedang dalam budaya Jawa, system siklus hari ada berbagai macam. Sesungguhnya zaman dulu orang Jawa kuno mengetahui 10 type minggu. Dari satu minggu yang jumlahnya cuma sehari, sampai Satu minggu yang jumlah harinya ada 10 hari. Nama beberapa macam minggu itu yaitu Ekawara, Dwiwara, Triwara, Caturwara, Pancawara, Sadwara, Saptawara, Hastawara, Nawawara serta Dasawara.

 

Untuk lebih detilnya cermati perumusan tata penanggalan Jawa yang saya sarikan dari Betaljemur di bawah ini :

 

Perhitungan hari dengan siklus 5 harian dikatakan sebagai Pancawara – Market. (Berarti dalam 1 minggu (Pancawara) cuma ada 5 hari)

Perhitungan hari dengan siklus 6 harian dimaksud Sadwara – Paringkelan.

Perhitungan hari dengan siklus 7 harian dimaksud Saptawara – Padinan.

Perhitungan hari dengan siklus 8 harian dimaksud Hastawara – Padewan

Perhitungan hari dengan siklus 9 harian dimaksud Sangawara – Padangon

Perhitungan hari dengan siklus mingguan (7 hari) terdiri 30 minggu dimaksud Wuku.

 

Tetapi zaman saat ini yang umum digunakan cuma 2 type minggu saja, yakni Pancawara (market) serta Saptawara (Padinan). Umpamanya Senin Legi, Selasa Pahing dan sebagainya. Pergantian penanggalan Jawa ini berlangsung saat pemerintahan Sultan Agung Prabu Hanyakrakusumo di Kerajaan Mataram Islam. Saptawara digunakan lantaran dinilai universal (sirklus 7 hari). Sedang Pancawara tetaplah digunakan lantaran melambangkan jati diri manusia Jawa yang berbudaya.

 

Dalam pertemuan ini saya cuma bakal mengulas Perhitungan hari dengan siklus 7 hari. Atau dalam bhs Jawa dimaksud Saptawara (Padinan) serta Sirklus 5 hari (Pancawara). Lantaran siklus yang lain, saya tak tahu. Monggo bila kerabat akan memberikan.

 

Dalam kitab Primbon, diterangkan orang Jawa yakin kalau hitungan 7 hari dalam satu minggu berawal saat Tuhan membuat alam semesta ini dalam 7 step. Di mana step pertama dimulai hari Ahad (Minggu).

 

Pertama, Saat Tuhan mempunyai kehendak menginginkan membuat dunia. Kehendak Tuhan ini lantas disimbolkan dengan Matahari yang bercahaya sebagai sumber kehidupan.

Ke-2, saat Tuhan turunkan kekuatan-Nya untuk membuat dunia. Kemampuan Tuhan itu lantas disimbolkan dengan Bln. yang bersinar tanpa ada menyilaukan.

Ketiga, Saat kemampuan Tuhan tadi mulai menebarkan percik-percik cahaya Tuhan. Percik cahaya Tuhan itu lantas disimbolkan dengan Api yang berpijar.

 

 

Ke empat, Saat Tuhan membuat dimensi ruangan untuk wadah alam semesta. Dimensi ruangan itu lantas disimbolkan dengan Bumi jadi tempat makhluk hidup.

Ke lima, Saat tuhan membuat panas yang menyalakan kehidupan. Panas yang menyala itu lantas disimbongkan dengan Angin yang bergerak serta petir yang menyambar.

Ke enam, Saat tuhan membuat air yang dingin. Air yang dingin itu lantas disimbolkan dengan Bintang yang serupa titik-titik air yang menyejukan.

Ketujuh, Saat Tuhan membuat unsur materi kasar sebagai basic pembentuk kehidupan. Materi kasar itu lantas disimbolkan dengan Air sebagai sumber kehidupan.

 

Butuh dipahami kalau penyebutan elemen (anasir) ini hanya sebagai lambang. Bukanlah adalah urutan peristiwa alam semesta tersebut. Lambang berikut yang nanti dipakai dalam mengetahui watak (ciri-ciri) hari.

 

Makna Nama Hari. Dalam penyebutan beberapa nama hari disetiap bangsa juga mempunyai ketidaksamaan. Serta sudah pasti mempunyai arti serta argumen sendiri. Sedang nama hari dalam penanggalan Jawa mulai sejak saat pemerintahan Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma di Kerajaan Mataram Islam menggunakan arti Arab yang telah di lafalkan dalam lidah Jawa. Terlebih dulu nama hari masihlah menggunakan arti Jawa kuno yakni :

 

Nama Hari Siklus 7 hari, Saptawara = Padinan :

Radite = Akad

Soma = Senen

Anggara = Slasa

Budha= Rebo

Respati = Kemis

Sukra = Jemuwah

Tumpak/Saniscara = Setu

 

Asal kata serta Makna nama Hari (Padinan)

Akad (minggu), datang dari kata Arab “ahad”, yang bermakna hari pertama.

Senen (Senin), datang dari kata Arab “istnain”, yang bermakna hari ke-2.

Slasa (Selasa), datang dari kata Arab “tsalatsah”, yang bermakna hari ketiga.

Rebo (Rabu), datang dari kata Arab “arba’ah”, yang bermakna hari ke empat.

Kemis (Kamis), datang dari kata Arab “khamsah”, yang bermakna hari ke lima,

Jemuwah (Jum’at), datang dari kata Arab “jumu’ah”, yang bermakna hari untuk berkumpul,

Setu (Sabtu), datang dari kata Arab “sab’ah” (sabat), yang bermakna hari ketujuh.

 

Terang sekali kalau beberapa nama hari yang hingga saat ini dipakai itu (Senin, Selasa dst) adalah kombinasi peradaban Islam serta kebudayaan Jawa. Digunakan mulai sejak perubahan Kalender Jawa asli (Th. SAKA) jadi kalender Jawa Sultan Agung (Anno Javanico – Th. AJ). Perubahan kalender itu mulai 1 Sura, th. Alip 1555. Yang jatuh pada tanggal 1 Muharam 1042. Atau bertepatan dengan kalender Masehi 8 Juli 1633. Angka th. AJ itu melanjutkan angka th. Saka yang saat itu hingga th. 1554, mulai sejak itu th. Saka tak digunakan lagi di Jawa, namun sampai saat ini masihlah dipakai di Bali.

 

Th. Jawa serta th. Islam (hijriyah) yaitu penanggalan Qomariyah atau system Lunar (bln.) yang ikuti peredaran bln. pada bumi. Jadi perhitungan hari juga diawali pada senja hari, waktu awal timbulnya rembulan malam atau waktu Maghrib.

 

Sedang th. Masehi serta th. Saka Hindu yaitu penanggalan Syamsiyah atau system solar (Matahari) yang ikuti peredaran bumi pada Matahari. Perubahan hari dalam penanggalan Masehi yang diawali pada jam 12 malam. Demikian dahulu serta mudah-mudahan memberi wawasan untuk kerabat sekalian.